Menjelang dua priode
kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY-JK dan SBY-Boediono) belum jelas ke
mana arah bangsa ini bergerak. Terpilihnya SBY- Boediono pada pemilihan
presiden (pilpres) 2009, yang awalnya akan dijadikan momen kebangkitan bangsa,
ternyata hanya menyisakan waktu transisi yang membosankan. Bangsa ini tak juga
bangkit. Keterpurukan sistem hukum, merebaknya praktik korupsi di lembaga
pemerintahan di pusat hingga daerah, intoleransi beragama, maupun krisis
kepercayaan terhadap lembaga negara menghiasi kehidupan rakyat bangsa ini.
Sederet fenomena di atas
membawa pengaruh pada kalangan masyarakat bawah (grass root). Banyak masyarakat
kemudian mulai pesimis, akankah bangsa ini dapat bangkit dari keterpurukannya
atau harus menunggu siklus kebangkitan.
Dalam pada itu, antara
percaya dan tidak, kadang kita harus menelan pil pahit, bahwa sebagian
masyarakat kita memang malas untuk bangkit. Barangkali tak jauh dari kenyataan,
hal itu akibat dari para politisi negeri yang bermental busuk dan apatis, yang
hanya mengantongi uang rakyat (korupsi). Akhirnya antara kalangan para penguasa
(mainstream) dan rakyat berkutat dengan menunggu datangnya kebangkitan.
Padahal kalau kita
melihat sejarah bangsa, kebangkitan bangsa bukan lahir dari sikap menunggu.
Ambillah contoh momentum historis kelahiran Budi Utomo 1908 dan Sumpah Pemuda
1928. Dari lahirnya pergerakan politik itu berimplikasi pada rasa nasionalisme
bangsa Indonesia. Akhirnya, perjuangan yang tiada henti dan upaya keras untuk
keluar dari genggaman kolonial berbuah manis dan bermuara pada Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.
Orang percaya, momen
kebangkitan bukanlah sesuatu yang harus ditunggu. Momen diciptakan dan
direkayasa oleh keyakinan dan optimisme. Sebenarnya, Indonesia berpotensi untuk
bangkit. Kemerdekaan dan proses reformasi merupakan dua momen penting
kebangkitan bangsa ini.
Ironisnya, banyak
masyarakat sering melupakan perjalanan sejarah bangsa: perjalanan kebangkitan
nasional, perjuangan kemerdekaan, dan reformasi. Dalam tataran tertentu,
masyarakat sering kali mengalami "amnesia sejarah". Momen kebangkitan
nasional dan reformasi sangat mudah dibalikkan menjadi momen seremonial belaka.
Satu momen penting dari
gerakan reformasi dan demokratisasi saat ini adalah dengan adanya pemilihan
umum secara langsung. Setelah pemilihan langsung anggota legislatif dan
presiden 2004 dan 2009, yang berakhir pada terpilihnya Presiden SBY secara
berturut-turut, maka kini saatnya menjelang pemilu 2014, demokrasi negeri ini
akan diuji kembali. Masyarakat tentu akan bertanya dan berharap, akankah
pemilihan presiden 2014 akan membawa kebangkitan bangsa, atau masyarakat
kembali menunggu seraya dijejali kasus-kasus korupsi?
Bak menunggu bayi yang
dilahirkan, presiden 2014-2019 akan lahir dari rahim demokrasi yang benar-benar
pilihan rakyat. Menunggu kelahiran presiden dan wakilnya kali ini akan sangat
berbeda dan mencemaskan. Berbeda karena media massa mewartakan beberapa aktor
ikut andil dalam pemilu 2014, seperti si raja dangdut Rhoma Irama, akan memeriahkan
pesta demokrasi lima tahunan itu. Tentu, masyarakat bertanya-tanya, akankah
"bayi demokrasi" itu akan lahir normal, atau memiliki cacat bawaan.
Dalam pada itu, rakyat
memiliki momentum berharga dan memiliki hak untuk mengubah bangsa. Oleh karena
itu, pilihan yang benar akan menentukan nasib bangsa dan kebangkitan bangsa.
Indonesia tak diragukan
lagi, sebuah bangsa besar, memiliki potensi alam yang luar biasa, tak
terkalahkan oleh bangsa manapun. Indonesia memiliki budaya yang kuat dan unik,
keragaman dan sekaligus perekat: bahasa, bangsa, dan tanah air. Indonesia juga
memiliki potensi SDM yang melimpah ruah. Hal ini sangat berpotensi dalam
memajukan Indonesia.
Namun, satu permasalahan
yang belum dimiliki bangsa ini, pemimpin yang mampu membangkitkan potensi itu
menjadi suatu kesatuan yang utuh. Memang Indonesia perlu pemimpin yang dapat
menyatukan semua potensi itu untuk kepentingan bangsa, bukan untuk kepentingan
pribadinya.
Untuk mengarungi masa
depan, bangsa Indonesia memang membutuhkan pemimpin-pemimpin yang berbobot.
Pemimpin yang di dalam dadanya selalu menyala api idealisme yang tinggi, yang
siap berjuang dan berkorban bagi kepentingan seluruh bangsanya, dan bukan hanya
mementingkan diri sendiri atau kelompoknya.
Juga, pemimpin yang
dibutuhkan bangsa kita saat ini adalah pemimpin yang karena sikap dan
kejujurannya mampu menjadi tokoh yang diteladani, terutama oleh generasi muda,
jujur, terbuka, tegas, percaya diri, dan bersedia menerima pendapat orang lain
dengan kebesaran jiwa, serta mampu merasakan getaran sukma rakyat yang masih
menghadapi persoalan-persoalan kemiskinan, kebodohan, dan yang senantiasa
mendambakan keadilan dalam hidupnya.
Akhirnya, kita berharap,
pemilihan presiden 2014 nanti akan benar-benar dapat menjadi momen kebangkitan
bagi bangsa ini. Kendati bibit-bibit perselisihan dan perpecahan tampak
menjelang pemilu, namun itu diharapkan tidak berkembang jauh. Yang lebih utama
dari pemilu nanti adalah kemenangan, siapa pun pemenangnya, bayi demokrasi yang
normal dan melayani rakyat. Oleh sebab itu, momen pemilu 2014, sebenarnya
merupakan momen kebangkitan bangsa, jika rakyat dan pemimpin negeri ini
menyadari bahwa kepentingan bangsa di atas segalanya.
Jika tidak, rakyat
terpaksa harus puas berada pada masa transisi, yang entah sampai kapan.
Sehingga, kebangkitan hanya menjadi sebuah harapan.
- Dimuat di Suara Karya. Selasa, 21 Mei 2013
