Di tengah hiruk-pikuk tawuran
pelajar, terdapat bacaan yang melegakan. Upaya melahirkan Pendidikan Berbasis
Keunggulan Lokal (PBKL) terus digalakkan dan dikembangkan. Hal itu dilakukan
untuk menyinergikan pendidikan di sekolah dan kekayaan daerah setempat agar
murid siap pakai setelah lulus.
Secara umum, PBKL adalah upaya
pengenalan siswa terhadap kekayaan potensi daerah tempat sekolah berada agar
anak didik memiliki life skill. Buku Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal karya
Jamal Mamur Asmani ini mengupas tuntas cara pemerintah serta elemen-elemen yang
terlibat dalam dunia pendidikan, dalam mengembangkan PBKL.
Pada bagian awal buku ini,
pembaca dibawa ke arah pengenalan keunggulan lokal yang mencakup aspek ekonomi,
budaya, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, hasil bumi, kreasi seni,
tradisi, budaya, pelayanan, jasa, sumber daya alam, dan sumber daya manusia
yang menjadi keunggulan suatu daerah (halaman 10).
Salah satu langkah pengembangan
PBKL lewat kajian dan penelitian mendalam yang komprehensif dengan metodologi
objektif-akuntabel (halaman 46). Sekolah harus mengikutsertakan aparat
pemerintah dan tokoh masyarakat dalam proses perencanaan, kajian, uji coba, dan
mengambil keputusan (halaman145) dalam rangka meningkatkan potensi lokal.
Elemen-elemen PBKL adalah
sekolah, guru, siswa, masyarakat, dunia usaha, birokrasi, SDM, dan sarana
prasarana (hal 111). Dibutuhkan kepala sekolah yang bervisi kewirausahaan
(halaman 147). Jadi, kepala sekolah menjadi sentral program PBKL.
Pengembangan PBKL bertujuan agar
generasi muda memiliki pemahaman utuh pentingnya menjaga dan melestarikan
potensi lokal sekitar mereka. Program juga bertujuan mengakomodasi ide
"gila" dan kreatif agar berkontribusi riil bagi masyarakat sekitar.
Potensi setiap daerah yang
berbeda-beda memiliki peluang besar untuk digali dan dioptimalkan baik sebagai
budaya, lingkungan, maupun wisata. Dengan demikian, keragaman potensi yang
terolah tadi akan semakin menambah corak dan khasanah kekayaan bangsa. Dengan
begitu, secara tidak langsung dapat menguatkan identitas bangsa. PBKL dapat
menjadi alternatif menumbuhkebangkan nasionalisme generasi muda.
Setelah melaksanakan PBKL, siswa
sebagai generasi bangsa dapat berperan secara langsung mengimplementasikan ilmu
pengetahuan mereka. Beberapa sekolah yang sukses mengembangkan PBKL. SMN Nurul
Jadid Probolinggo Jawa Timur dalam kurikulumnya, dimasukkan program kelautan
agar para siswa memiliki kecakapan kelautan (halaman 160).
SMAN 1 Tegal Jawa Tengah mengembangkan dan menggalakkan program batik. Para siswa diajarkan teknik membatik dan hal-hal yang berkaitan dengan batik (halaman 174).
Terlepas dari kekurangan buku ini, akhirnya pembaca disadarkan untuk ikut membangkitkan kembali gairah menghargai dan meningkatkan keunggulan lokal yang bukan hanya menjadi kekayaan masyarakat setempat, tapi juga kekayaan bangsa. Menikmati keindahan dan melestarikannya merupakan salah satu bentuk kepedulian yang sangat berarti.
Judul : Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal
SMAN 1 Tegal Jawa Tengah mengembangkan dan menggalakkan program batik. Para siswa diajarkan teknik membatik dan hal-hal yang berkaitan dengan batik (halaman 174).
Terlepas dari kekurangan buku ini, akhirnya pembaca disadarkan untuk ikut membangkitkan kembali gairah menghargai dan meningkatkan keunggulan lokal yang bukan hanya menjadi kekayaan masyarakat setempat, tapi juga kekayaan bangsa. Menikmati keindahan dan melestarikannya merupakan salah satu bentuk kepedulian yang sangat berarti.
Judul : Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal
Pengarang : Jamal Mamur Asmani
Penerbit :
Diva Press
Terbit :
September 2012
Ukuran : 14x20cm
Tebal :
223 hlm
Harga :
Rp 35.000,-
ISBN : 9786027641617
Resensi ini dimuat di Koran Jakarta, 02 Oktober 2012.
Resensi ini dimuat di Koran Jakarta, 02 Oktober 2012.
