Kegiatan menulis pada hakikatnya dapat dilatihkan pada diri
sendiri baik secara kolaboratif maupun otodidak. Pelatihan ini akan dapat
menjadi suatu kebiasaan yang pada gilirannya akan disadari besar pengaruhnya
dalam melengkapi wawasan berpikir dan keilmuan. Selain itu, kegiatan menulis
secara teratur dan benar merupakan salah satu alat untuk menggali berbagai “fosil
ilmu” yang masih terpendam (Otong Setiawan Djuharie dan Suherli, 2001: 5).
Ironisnya, kegiatan menulis sering teracuhkan bahkan oleh
seorang akademisi sekalipun. Alasan yang sering terlontarkan adalah karena
mereka tidak tahu dasar penulisan, kurang terlatih, sulit mencari pengembangan
ide, takut melesat sasaran ulasan, lemah retorika, dan miskin wawasan di bidang
yang akan ditulis. Alasan ini pada akhirnya bermuara pada satu kesimpulan dengan
mengatakan “saya tidak bisa menulis dan menulis milik orang yang berbakat”.
Menurut hemat saya, pendapat yang mengatakan bahwa menulis
milik orang-orang yang berbakat, merupakan pendapat yang keliru dan amat
menyesatkan. Pendapat seperti itu hanya akan menghambat pengembangan kemampuan
diri dan kreativitas menulis.
Salah satu langkah terbaik untuk mengatasi permasalahan di
atas yaitu dengan cara berlatih menulis secara rutin dan teratur. “Ala bisa
karena biasa”, begitulah pepatah mengatakan. Saya katakan sekali lagi bahwa kemampuan
menulis bukan lahir karena bakat, tetapi diciptakan. Artinya, tidak ada
seorang pun dilahirkan sebagai penulis, tetapi seseorang menjadi penulis karena belajar dan berlatih dalam menulis.
Dalam pada itu, kemampuan menulis seseorang bergantung kepada
sejauh mana ia berusaha menuangkan pikirannya secara total. Bobot tulisan pun
dipengaruhi oleh kualitas keilmuan si penulis. Dalam hal ini, Ismail Kusmayadi
dalam bukunya, Guru Juga Bisa (Me) Nulis, mengatakan bahwa kemampuan
menulis seseorang itu seperti sebuah petasan. Kapan pun bisa disulut. Hanya
saja, ketika meledak bunyinya berbeda-beda. Ada yang berbunyi pelan karena
kurang amunisi, ada juga yang menggelegar karena amunisinya banyak. Menulis
merupakan ledakan pikiran seseorang yang ledakannya bisa berbeda-beda.
Mengakhiri tulisan singkat ini, saya menegaskan kembali bahwa
setiap orang bisa menulis asalkan dia mau belajar dan berlatih. Saya yakin
tidak akan ada karya tulis yang baik jika tidak dimulai dengan menulis. Oleh
karena itu, saya mengajak kepada para pembaca terutama mahasiswa yang mempunyai
keinginan menjadi penulis untuk memulai menulis. TAKE ACTION FOR WRITING!
Sumber Inspirasi:
Djuharie, Otong
Setiawan, dan Suherli, Panduan Membuat Karya Tulis, cet. I, Bandung:
Yrama Widya, 2001.
Kusmayadi, Ismail, Guru Juga Bisa (me) Nulis,
Bandung: Tinta Emas, 2011.
