“Impian, kemauan, kerja keras dan doa,
serta disiplin merupakan modal utama untuk meraih cita-cita, begitu pun menulis.”
Saya yakin, para penulis sukses dan
profesional yang mewarnai dunia kepenulisan, anggap saja Mas Pram (Alm), Andrea Hirata, dan Helvy Tiana Rosa, berawal dari sebuah mimpi. Lalu mimpi itu direalisasikan
menjadi tindakan: menulis, menulis, dan menulis. Akhirnya, mereka menjadi
penulis terkenal di jagad kepenulisan bumi nusantara.
Namun, terdapat aneka kendala mendasar
ketika kita hendak menulis, seperti: tidak mood, merasa diri tidak
mampu alias tidak pede (percaya
diri), takut salah, tidak punya ide, dan seribu satu macam kendala menulis
lainnya. Bukankah begitu?
Adalah sebuah pertanyaan mendasar, tulisan
apa yang harus kita tulis dan dari mana memulainya? Mulailah menulis apa saja,
entah itu pengalaman diri sendiri atau orang lain, artikel, cerpen, puisi,
resensi, dll. Intinya, mulailah menulis dari hal-hal yang ringan dan mudah.
Meminjam ungkapan (Alm.) Gus Dur, “Gitu aja kok repot!”
Ada beberapa tips cara memulai menulis untuk
meraih mimpi jadi penulis. Tujuannya, supaya kita tidak dihinggapi kata
“bingung”.
1.
Banyak membaca dan bergaul
Salah
satu cara untuk menjaring ide adalah membaca. Memang, kunci utama menjadi
seorang penulis adalah gemar membaca: buku, keadaan diri sendiri, fenomena yang
terjadi di masyarakat, dsb. Bagaimana kita bisa menulis kalau tidak pernah
membaca. Dengan membaca, kita akan tahu lebih banyak hal-hal (wawasan) yang belum
kita ketahui. Dari sinilah, biasanya inspirasi dan ide menulis akan muncul. “Membaca
merupakan jendela dunia,” itulah ungkapan yang saya hapalkan sejak masih
bocah ingusan (SD). Cara lainnya, dengan banyak berkenalan atau bergaul dengan
penulis. Dari pergaulan ini biasanya kita sering termotivasi dan terinspirasi
oleh mereka. Kita bisa mengambil pelajaran dari kisah pahit-manis awal mereka
menulis.
2. Segera tulis
Setelah
kita mendapatkan ide, bergegaslah mempersiapkan kertas, pena, notebook,
komputer, dan media lainnya yang dapat menampung ide kita. Jangan sampai ide
yang ada dalam benak kita lewat begitu saja. Kalau sudah begini, sayang kan!
Segera coba menulis. Cobalah menulis tentang apa yang kita sukai. Senada dengan
hal ini, Imam Ali ra. berkata, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!”
3. Jangan bingung
Hal yang
paling menakutkan bagi penulis pemula adalah kaidah baku struktur kalimat,
seperti: S,P,O,K, bahasa baku, paragraf deduktif, induktif, dan
deduktif-induktif, serta sejumlah kaidah baku lainnya yang berhubungan dengan
pelajaran bahasa Indonesia. Tenang, jangan bingung, keep on writing
(tetaplah menulis)! Sambil berjalan, gramatika bahasa Indonesia bisa diperbaiki
(proses editing). Sekarang, yang penting tulis dulu, biar jelek asal nulis.
Namanya juga belajar. Ya, kan!
4. Minta pendapat orang lain
Langkah
keempat untuk menjadi penulis adalah mengirimkan buah pikiran (tulisan),
seperti: artikel, puisi, cerpen, resensi, buku, dll. ke media massa dan
penerbitan. Tapi, sebelum mengirim, minta pendapat orang lain (akan lebih bagus) terlebih dahulu. Tujuannya, mendapatkan penilaian secara objektif.
Akhirnya, penilaian atau komentar orang lain dapat dijadikan sebagai
pertimbangan dalam proses perbaikan tulisan kita.
5. Kirim tulisan
Kirim,
kirim, dan kirim. Buat apa kita menulis sampai puluhan lembar, ratusan lembar
bahkan ribuan lembar kalau kita tidak pernah mengirimkannya.
Saya ingat
pertama kali saya ingin jadi penulis. Dulu ketika saya masih menggunakan
seragam abu-abu, tepatnya kelas IX, saya punya mimpi jadi penulis. Namun,
ketika hendak menulis saya selalu bingung, bingung, dan pokoknya bingung.
Seiring berganti seragam, seragam bebas (kuliah), saya terus menulis. Ceritanya,
saya mulai menulis secara konsisten sejak masuk kuliah (2009), tulisan yang
saya tulis berupa artikel (opini) dan resensi. Alasan saya, ini mudah dan
ringan. Berkali-kali saya kirimkan ke berbagai media massa. Tidak dapat
dihitung dengan jari, berapa kali tulisan saya ditolak. Namun, tekad untuk
tetap menulis tak pernah pudar. Dengan semangat, kemauan, kerja keras dan doa,
serta disiplin saya terus mengirimkan tulisan saya. Hingga suatu hari, 02
Oktober 2012. Resensi yang berjudul
“Sinergi Pendidikan dan Kekayaan Lokal” dimuat di Koran Jakarta. Bagjana
meuni teu katulungan (sangat bahagia), betapa tidak, karena itu tulisan pertama
saya nampang di media massa. Inilah yang memicu spirit menulis saya hingga
sekarang. Oleh karena itu, mulailah menulis dan segera kirimkan ke media massa!
Jangan takut gagal! Jangan putus asa! Kegagalan merupakan batu loncatan untuk
menuju kesuksesan. Bukankah begitu? Selamat menulis.***
Sumber
inspirasi:
Yuliarti, Nurheti, Menjadi Penulis
Profesional: Kiat Jitu Menembus Media Massa dan Penerbitan, cet. I,
Yogyakarta: MedPress, 2008.