Maulid Nabi dan Caleg 2014

Diposting oleh Label: Pada

Umat Islam Indonesia akan merayakan maulid (hari kelahiran) Nabi Muhammad SAW, yang dalam bahasa Sunda disebut muludan. Maulid Nabi kali ini jatuh pada Selasa, 12 Rabiul Awal 1435 H (14 Januari 2014 M). Dalam perayaan Maulid Nabi, galibnya mereka mengadakan aneka ritual keagamaan, baik secara munfarid maupun berjamaah. Salah satunya menggelar pengajian akbar yang di dalamnya dilantunkan aneka syair pujian dan shalawat, seperti al-barzanji, burdah, diba' dan lain-lain. Hal itu sebagai ekspresi afeksi kepada Nabi dan rasa syukur atas kelahiran Muhammad SAW.
Bagaimanapun Maulid Nabi dapat dijadikan sebagai momentum meneladani kepribadian dan tindakan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Manusia teladan memang banyak, dari mulai anbiya, aulia, ulama, sampai umaro. Namun, kalau kita bertanya, siapakah manusia ideal sepanjang sejarah yang selalu berusaha diteladani dari ujung rambut sampai ujung kakinya, dari mulai tata cara ibadat sampai aktivitas kehidupan duniawi sehari-harinya, bahkan juga dalam urusan pemerintahan, politik, dan hukum? Pasti kita sepakat bahwa dia adalah sang utusan terakhir, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib.
Muhammad SAW benar-benar manusia terdidik, ma'shum (bersih dari dosa), saksi bagi perintah Allah SWT, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan terhadap orang-orang yang apatis akan kebenaran, penyeru kepada jalan-Nya, dan sinar mercusuar yang menembus kegelapan zaman. Sebagaimana termaktub dalam surat Al-Ahzab ayat 45-46: "Wahai Nabi! Kami telah mengutus Engkau sebagai saksi dan pembawa kabar-kabar gembira serta sebagai seorang pembawa peringatan. Dan sebagai penyeru kepada jalan Allah dengan izin-Nya, dan sebagai pelita yang menerangi."
Dikarenakan risalah beliau yang komplit di atas, Maulana Sayid Sulaiman Nadwi, ulama kelahiran India (22 Nopember 1884 M/ 23 Shafar 1302 H), dalam bukunya, Muhammad The Ideal Prophet (1997), mengatakan bahwa risalah Nabi Muhammad SAW adalah abadi, sehingga beliau diutus sebagai suatu puncak kesempurnaan dengan membawa petunjuk yang akan senantiasa mekar dan bersinar sepanjang zaman. Cukup beralasan ketika Michael H Hart memposisikan Nabi Muhammad SAW sebagai peringkat pertama dalam deretan seratus tokoh paling berpengaruh di dunia.
Seseorang dijadikan prototipe ideal bagi manusia lainnya, semestinya berdasarkan realita historis yang akuntabel. Para sejarawan mengakui, dalam kepribadian beliau tidak terdapat sedikit pun cacat, kekurangan, keganjilan dan sebagainya. Beliau pribadi yang kredibel dalam mengemban tugas, jujur dalam perkataan dan perbuatan, cerdas dan terampil dalam mengambil dan menetapkan kebijakan, transparan, tegas, responsibel, visioner, loyal, integritas, empati, dan simpati dalam memimpin umatnya. Singkatnya, beliau adalah manusia paripurna.
Lebih jauh dari itu, karakter dan tindakan beliau telah dicontohkan oleh beliau sendiri dengan berpayung spiritual, moral, dan intelektual. Pada akhirnya, kehadiran beliau membawa maslahat bagi umat bukan membawa mafsadat dan madharat. Dalam bahasa Al-Qur'an, beliau sebagai rahmatal lil 'aalamiin. Tentunya, ini menjadi referensi kepribadian personal kita. Akan lebih berharga bila dijadikan referensi oleh para calon anggota legislatif (caleg) 2014.
Akhir-akhir ini para caleg 2014 sibuk mengekspresikan diri dan mengkampanyekan partai politiknya melalui aneka media seperti surat kabar, televisi, termasuk juga dalam momen Maulid Nabi. Seolah afeksi dan atensi mereka diberikan sepenuhnya kepada masyarakat. Ya, tiada lain hal itu untuk menarik dan mencuri hati masyarakat.
Melihat tahun-tahun sebelumnya, banyak caleg pasca menjabat anggota dewan (DPR), baik pusat maupun daerah, bukan mengurus, membimbing, mengedukasi, dan menuntun masyarakat, akan tetapi mereka malah sibuk mengurus kepentingan pribadi, keluarga, kolega, dan partainya. Untuk mencapai kepentingannya, tak ayal mereka bertindak koruptif dan manipulatif. Betapa tidak, sejak 2004-2013 KPK terbukti telah menangani 65 anggota DPR yang terlibat korupsi.
Pada akhirnya, mereka menjadi problem maker (pembuat masalah) bangsa. Mereka pun menjadi tontonan publik yang harus dituntun, dibimbing, dan diedukasi. Selain itu, mereka membuat masyarakat hidup dalam kesengsaraan. Sengsara secara materi (ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum, sosial, birokrasi nasional dan lain-lain) dan non-materi (beban psikologis).
Disinyalir maraknya praktik korupsi di kalangan anggota DPR karena absennya nilai kejujuran, integritas, loyalitas, tanggung jawab sosial, keikhlasan memimpin, serta sikap dan prilaku hukum. Oleh karena itu, dalam moment Maulid Nabi kali ini, para caleg 2014 harus membuka mata, hati, dan pikiran untuk membaca, melihat, dan merasakan penderitaan dan kesengsaraan masyarakat. Sehingga, afeksi dan atensi untuk masyarakat tak pernah pudar, tapi selalu terpatri di dalam diri.
Dan, besar harapan mereka mau meneladani karakter, sikap, dan tindakan Rasulullah SAW dalam memimpin bangsa dengan berpayung moral, spiritual, dan intelektual. Jangan sampai masyarakat dari Sabang sampai Merauke hidup dengan linangan air mata kesedihan dan kesengsaraan yang datang silih berganti tiada henti di masa depan. Jadi, Maulid Nabi sebenarnya menjadi momentum mengubah kondisi objektif masyarakat dari seribu satu macam kesulitan dan kesengsaraan menuju kemudahan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup.
Bersama harapan dan optimis, siapa pun para caleg yang lulus Pemilu Legislatif 2014, semoga kehadiran mereka menjadi rahmat. Konkritnya, mereka mampu mengubah Indonesia menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang adil, makmur, dan penuh kasih sayang Allah). Amiin Yaa Mujibassaailiin. *** 
(Dimuat di Suara Karya, Senin, 13 Januari 2014)
Posting Komentar
Jika Anda memiliki pertanyaan, kritik, dan saran dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar di bawah ini. Pertanyaan, saran, dan kritik yang konstruktif dari Anda sangat berharga bagi saya.

Back to Top